CONGRATULATION RISDA

 Kamis, 13 Agustuss,,
Kuyakin hari ini adalah salah satu hari bersejarah bagi RISDA mahasiswa bimbinganku,, ya hari ini RISDA sampai pada titik puncak perjuangan,, hari ini terlihat jelas dan sangat kuyakini jantungnya terus berdenyut tak karuan,,, nafasnya

FILSAFAT PENDIDIKAN MATERIALISME DAN FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME

A.    FILSAFAT PENDIDIKAN MATERIALISME
1.      Konsep Dasar Filsafat Realisme
      Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, bukan spiritual, atau supranatural. Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor pandangan materialisme klasik, yang disebut juga “atomisme”.

JEJAK PROSES PENCAPAIAN (1)

terlahir dengan bola mata yang bentuk dan fungsinya normal
namun Allah menjadikannya buta
dari gaya hidup penuh kesenangan duniawi yang sifatnya sesaat
membuatku bertahan dalam KESEDERHANAAN... *alhamdulillah...

HARDIKNAS DALAM BINGKAI KEPEDULIAN (bersama HIMA PLB UNLAM BANJARMASIN)

Ada berbagai cara yang dilakukan setiap kalangan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei hari ini. Ada yang memperingatinya dengan

TANDATANGAN PERTAMAQ


rasa tak percaya dan haru seketika menyapaku, saat Risda (mahasiswa bimbinganku) memintaku menandatangani lembar persetujuan pembimbing di halaman pertama proposal skripsinya untuk

SECERCA KENANGAN DI BANGKU KULIAH (awal mengukir mimpi)

... terik mentari siang ini mengantarkan memoriku merayapi lika liku kenangan di bangku kuliah, menggeluti rutinitas kampus selama bertahun-tahun. Tinggal

NGERJAIN PENIPU... (merasa lucu)


….Jam 10.06 WITA,  sudah giliranku mengisi perkuliahan, bisikku dalam hati. Tanpa pikir panjang lagi segera kugopoh tas ransel berisikan laptop dan beberapa buku yang menjadikan pundakku sedikit merintih menanggung beban yang lumayan berat.

PENCAPAIAN TOGA KEDUA

empat bulan telah berlalu semenjak kuraih toga kemenangan, namun baru sekarang ku menyempatkan diri untuk berbagi akan hal itu..

SURABAYA DAN KITA


Ini cerita tentang persahabatan kita,

Bagaimana ini bermula...
Masih ingatkah kamu??? tahun 2010 silam cerita persahabatan kita bermula di sosial media, saat itu
kita berstatus sebagai mahasiswa, kamu masih menempuh pendidikan sarjana di kota medan dan

UJIAN TESISq


Sudah lama kuingin menceritakan momen bersejarahku yang satu ini,, yaaa.. tepatnya 08 agustus 2014 pukul 13.00 WIB sebuah karya ilmiah bernama TESIS yang kutulis dengan hasil pemikiranku sendiri, hari ini harus kupertanggungjawabkan di hadapan dewan penguji yang berjumlah 5 orang.

CERITA ADIKKU... “ALBINO=BULE SAKIT”

Sekedar perbincangan ringan bersama adikku melalui telepon di pagi ini, yaa perbincangan yang membuatku layaknya orang stress,, tertawa sendiri setiap mengingat kata-kata lugu nan polosnya..

Adikku  kuliah di salah satu perguruan tinggi islam swasta yang ada dimakassar, masa oritasinya diisi dengan kegiatan pesantren. Kudengar suara lesunya di seberang sana, menceritakan berbagai

SERASA SEPERTI ULAT KASUR


          Sebagai mahasiswa rantau, momen liburan idul fitri selama 1 minggu terasa bagai 1 tahun bagiku. bagaimana tidak, momen liburan hanya kuhabiskan seorang diri bersama sunyi dan rindu di tanah rantau, keadaan sungguh tidak membuatku memikirkan mudik lebaran bersama kluarga seperti yang dilakukan oleh sebagian besar para perantau.
         

BERLEBARAN BERSAMA SUNYI DAN RINDU

            Pagi yang mendamaikan,  pagi yang menenangkan, pagi yang menentramkan, namun pagi ini juga mengantarkanku ke ruang sunyi dan rindu yang semakin mencekam. ALLAHU

DALAM RENUNG DI GERBANG PERPISAHAN


         
Masih disini, di tanah rantau...
Kududuk termangu merenungi pergantian waktu yang terasa sangat cepat, jika kemarin kuingin waktu cepat berlalu karena ketidaksabaranku menyambut tamu agung BULAN RAMADHAN,  namun hari ini di penghujung bulan Ramadhan ingin rasanya kuhentikan waktu, aku masih belum siap ditinggal bulan nan suci ini, bulan yang dijanjikan magfirah oleh Allah, bulan yang dijanjikan dilipatgandakannya setiap pahala amalan kita, bulan yang dijanjikan malam kemuliaan LAILATUL QADR, dan tentunya bulan yang melatih kita melawan hawa nafsu.
          Terpikir olehku, sudahkah aku memanfaatkan dengan sebaik-baiknya keagungan bulan ramadhan ini?? sudah berhasilkan aku melawan hawa nafsuku?? Sudahkah aku meraih malam kemuliaan Lailatul Qadr?? dan sudahkah aku mendapatkan magfirahMU ya ALLAH??. Seribu tanya yang menjadi alasan kenapa aku belum siap berpisah dengan bulan ramadhan, masih ingin kulakukan banyak hal di bulan nan suci ini untuk meyakinkan diri bahwa telah kuperoleh jawaban terbaik atas setiap tanyaku.
          Dalam sesal dan kesedihan yang mendalam, harus kusiapkan diri ini untuk menghadapi kenyataan bahwa perpisahan sudah didepan mata. Esok adalah hari nan fitri atau HARI KEMENANGAN yang di nanti-nanti setiap hamba ALLAh setelah berpuasa selama kurang lebih satu bulan lamanya. Entah bagaimana aku sebaiknya menyikapi moment ini, di satu sisi aku masih merasakan kesedihan yang mendalam, rasanya aku belum merasakan kemenangan sesungguhnya, masih banyak cela yang harus kututupi. Tapi disisi lain, hampir semua umat muslim diluar sana senang dan bahagian menyambut HARI KEMENANGAN yang tinggal hitungan jam saja, dimana setiap hamba yang dikehendakiNYA akan kembali fitri/suci bagai bayi yang baru terlahir di dunia ini.
          Masih dalam renungku,,
Ahhh,, tidak sewajarnya jika aku terlalu larut dalam sedih dan sesal. Aku pun seharusnya menyambut hari nan fitri dengan hati yang senang, hatiyang ikhlas, dan hati yang bahagia. Dibalik cela dan segala kekurangan di bulan Ramadhan,  kuukir pengharapan ALLAH kan mengampuni segala khilaf hingga kudapati diriku menjadi hamba terpilih yang layak mendapat predikat MENANG dan kembali suci.
          Ya ALLAh, anugrahkanlah padaku kesempatan untuk kembali bersua dengan bulan ramadhan di tahun depan,  masih ada target yang belum kugapai di ramadhan tahun ini yakni KEMENANGAN YANG SESUNGGUHNYA.. Aamiin..

Surabaya, 27072014
“KS”


BANGKU TAMAN MENOREHKAN CERITA


 Tak terasa satu jam sudah aku duduk di bangku taman ini, satu jamku berlalu dalam penantian, yaaa menanti kedatangan dosen pembimbing... dan aku masih juga betah duduk dibangku taman ini dengan tatapan liar bagai macan yang mengincar mangsa,, hahha,, tidak berarti aku ingin memangsa dosen pembimbingku, tapi segera ingin bertemu dengan beliau.

Masih di bangku taman ini, sembari menunggu kedatangan dosen pembimbing, seorang pria berpostur tinggi dengan kulit sawo matang yang  kuperkirakan usianya sekitar 30an menghampiri dan duduk di sampingQ, tidak ada tegur sapa, apalagi percakapan diantara kami, aku masih pokus menanti kedatangan dosen pembimbingku, dari ekspresinya, nampaknya pria itu juga sedang menunggu kedatangan seseorang.

Ku biarkan saja suasana ini hening dalam penantian masing-masing. Tiba-tiba HPq berdering memecah keheningan ini,, oohh... ternyata seorang teman dari makassar yang menelpon, segera kuangkat teleponnya, ditengah-tengah percakapanku dengan teman di telepon dari sudut mataku terlihat pria disampingku ini juga mengambil HP dari saku celana jeans yang dipakainya, nampaknya ia ingin menelpon seseorang yang sedari tadi ia tunggu, hhmmm.. ternyata ia sudah mulai bosan dalam penantiannya, bisikku dalam hati.. percakapanku masih berlanjut dengan temanQ di telepon. “dimanaki sekarang??”... “saya tungguki nah”... kata-kata pria disampingku itu mengejutkanku, membuat keningQ mengernyit refleks, bukan kata-katanya yang membuatku  terkejut tapi terlebih pada dialegnya yang sangat akrab ditelingaku, percakapanku dengan teman di ujung telepon jadi gak pokus lagi akhirnya percakapan kami akhiri dengan kesepakatan bersama.

Kini kuberanikan diri menyapa pria yang sedari tadi duduk disampingku, kubertanya darimana asalnya, hhmmm ternyata dia dari makassar, juga kebetulan satu almamater denganku sewaktu di S1 kemarin, percakapan jadi semakin akrab, ternyata dia ke surabaya karena dapat beasiswa P2TK untuk melanjutkan studi pascasarjana, dia bertanya banyak hal mengenai perkuliahan, kujawab seadanya dan setauku,,  beberapa saat kemudian, teman yang sedari tadi di tunggunya sudah menampakkan batang hidungnya di hadapan kami, ia pun pamit menuju loket untuk melakukan registrasi,, GUBRAKKK... akupun teringat akan dosen pembimbing yang sedari tadi kutunggu kedatangannya... segera kuraih tas ransel hitamku menuju ruangannya,, dan benar saja belia sudah datang tapi hari ini beliau belum bisa menerima bimbingan karena ada jadwal nguji dan ngajar kata sekertaris beliau...  

Hhmmm tidaklah mengapa... bisikku dalam hati sambil tersenyum pada ibu sekertaris cantik itu sambil berlalu keluar ruangan, tidak ada yang perlu disesali, dan tidak ada alasan aku untuk kecewa karena kejadian hari ini adalah skenario terindah dari ALLAH untukQ.. J J

SURABAYA, 02072014
KS





WISATA GUNUNG BROMO


            Akhirnya keinginan untuk berwisata ke gunung bromo tercapai sudah, sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Walaupun wisata kali ini tidak sesuai dengan rencana awal karena ada salah seorang teman yang batal berangkat karena mendadak ada kepentingan yang juga tidak bisa ditinggalkan.

SWEET EXPERIENCE IN THAILAND


        Saat ini, saya melanjutkan studi di salah satu universitas negeri di Surabaya,  salah satu program rutin yang diadakan program studi pilihanku adalah mengikuti konfrensi internsional di Thailand yang merupakan wujud kerjasama dengan negara tetangga dalam bidang pendidikan. Konferensi itu lebih di kenal dengan ICER (international Conference education research)..

TENTANG SUNYI (1)

bagaimana aku bersahabat dengan sunyi??

        Dulu, aku sangat membenci sunyi, aku tidak ingin bersua dengannya, bahkan aku dengan angkuhnya tak mau mengenalnya,, dulu hari-hariku berlalu begitu menyenangkan karena ada ramai yang selalu menemani. ketika ramai berlalu sejenak, sunyi datang menampakkan diri ingin menemani, seketika aku menjauh darinya, aku menjerit sekencang-kencangnya, menunjukkan penolakanku padanya, aku berlari dan terus berlari sejauh-jauhnya hingga aku menemukan ramai.
          Dulu, ramai selalu ada buatku. Ramai selalu menjagaku dari sunyi, ramai selalu menghiburku ketika sunyi mulai menakutiku dengan diamnya, ramai tidak pernah meninggalkanku dalam waktu yang lama, ketika ramai akan pergi untuk sementara waktu,, dia akan menitipkanku pada teman-temannya, sehingga sunyi tidak berani mengahapiriku.
          Seiring berjalannya waktu, pada suatu ketika, aku memutuskan melangkahkan kaki meninggalkan zona nyamanku menuju tanah rantau tuk menimba ilmu,, keputusanku ini kuberitahu pada ramai,, dan ramai senang dengan keputusanku, bahkan dia berjanji akan mengantarku dan menitipkanku pada teman-temannya ditanah rantau tujuanku,, hhmmm,, nampaknya ramai khawatir sunyi akan menggangguku..
          Waktu terus berlalu,, aku menghabiskan waktu bersama teman-teman ramai disini,, rupanya mereka juga ramah,, namun teman-teman ramai jauh lebih sibuk dari ramai, sehingga mereka pun harus meninggalkanku dalam waktu yang lama.
          Kini aku sendiri,
Seketika sunyi hadir dengan diamnya, diam yang selama ini membuatku takut,, aku tidak tahan terus-terusan berada dalam ketakutan,, kuputuskan untuk keluar mencari teman-teman ramai disini,, namun percuma saja,, di luar sana ada banyak ramai yang kutemukan, namun mereka begitu asing, mereka tidak mengenaliku, aku pun tidak mengenali mereka..
          Kini aku pasrah,,
Aku pasrah dalam takut yang teramat sangat kepada sunyi,, namun, nampaknya sunyi berempati kepadaku, ia kasihan melihatku dalam ketakutan, hingga ia pun selalu berusaha menyapaku dengan diamnya, sapaan yang sering tak kuhiraukan,, namun ternyata sunyi tidaklah dendam padaku. Buktinya, sikap angkuhku terhadapnya selama ini bahkan sampa detik ini tidaklah  membuatnya marah dan semakin manakut-nakutiku, justru ia dengan lembut selalu menyapaku, menawarkan persahabatan padaku, dengan rendah hati, ia terus meyakinkanku kalau ia pun bisa menemani hari-hariku walau tidak sebaik ramai.
          Kulihat ada ketulusan pada sunyi, dengan masih sedikit takut, kusambut tawaran persahabatannya denganku. Yaahhh.. sunyi berhasil meyakinkanku, kalau ia tidak seburuk yang kupikir. Kini aku bersahabat dengan sunyi, hari-hariku kini kulalui barsama sunyi. Bersama sunyi, aku belajar lebih bersabar, bersama sunyi aku belajar arti ketulusan, bersama sunyi aku menanti datangnya ramai,, dan bersama sunyi aku pun bahagia.. karena pada hakekatnya, hanya sunyilah yang dapat menggantikan ramai.. J J J


Surabaya, 08 Juni 2014

“KS”

HUJAN, SUMBER PENGHASILAN

Wahh...pagi yang cerah, kataku dengan perasaan yang amat senang, karena sudah beberapa hari ini hujan begitu deras mengguyur kota dimana aku tinggal. Hujan membuatku malas beraktifitas bawaannya selalu ingin tidur, seakan dinina bobokan oleh irama hujan.
Namun lain halnya pada pagi ini, sepertinya cuaca cukup bersahabat, aku begitu bersemangat, keinginanku pergi ke gramedia di salah satu mal di kota tempat tinggalku untuk mencari beberapa buku yang akan kujadikan literatur dalam penulisan skripsiku, nampaknya tidak akan tertunda lagi... kataku penuh harap.
Tiba-tiba saja... kring...kring... ponselku berdering, ternyata yang nelpon adalah Kany teman kuliahku segera kujawab telpon darinya, diseberang sana terdengar suara Kany yang mengucapkan salam.. wa alaikum salam, ada apa? Jawabku dan kembali bertanya maksud ia menelponku. Gimana kalau hari ini kita ke gramedia mumpung gak hujan, kamu bisa kan? Ajak Kany padaku, oke kalau begitu aku siap-siap dulu, pukul 10.00 kita berangkat aku tunggu yah. Oke jawab Kany singkat dan memutuskan teleponnya.
Dalam perjalanan menuju gramedia, cuaca masih sangat bersahabat, langit semakin cerah, sinar mentari menyingkap awan hitam yang membuatnya nampak sedih hingga menangis (hujan) di hari-hari kemarin. Beberapa saat kemudian, kami pun tiba di mal letak gramedia yang akan kami kunjungi. Tanpa pikir panjang lagi saya mengajak Kany menuju gramedia, ya sekedar antisipasi aja soalnya cuaca bisa berubah kapan saja, mungin sekarang terlihat begitu cerah, namun tidak menutup kemungkinan beberapa saat kemudian hujan deras turun mengguyur kota ini.
Setelah hampir satu jam lamanya mencari, akhirnya kutemukan juga beberapa buku yang relevan dengan masalah penyusunan skripsiku, sementara Kany yang rencana awalnya juga ingin membeli buku yang akan dijadikan referensi penyusunan skripsinya malah asyik membaca novel. Kany dah dapat bukunya belum? Tanyaku dengan maksud mengingatkan. Aku sudah dapat tapi cuma satu, jawab Kany. Ya udah gak apa-apa selebihnya kita cari di toko buku lain, sekarang kita bayar yuk!! Kami pun beranjak menuju kasir untuk membayar buku yang akan kami beli.
Sebelum pulang, kami menyempatkan membeli beberapa makanan berhubung persediaan makanan di rumah sudah menipis. Setelah merasa cukup, kami putuskan untuk pulang. Beberapa meter dari gerbang pintu keluar mal, terdengar suara hujan yang begitu deras. depan pintu gerbang dipadati oleh pengunjung yang menunggu hujan reda, kulihat disekitarku jalan  dan tempat parkir telah tergenang air.
Payung kak... kak payung... Tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh suara itu, kumenoleh padanya.. ya tuhan... jeritku dalam hati, aku semakin kaget ternyata suara itu adalah suara anak perempuan yang umurnya kira-kira masih lebih kurang 6 tahun, tubuhnya basah kuyup dan gemetaran, ia nampak begitu kedinginan namun dengan menahan rasa dinginnya ia terus saja menawarkan payungnya padaku dengan suara gemetar.
Akhirnya kuputuskan menerima tawarannya payung yang ukurannya lumayan besar itu, cukup saya gunakan bersama Kany sementara anak itu memilih kehujanan, namun ia terlihat begitu menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi tubuh kecilnya. Dalam perjalanan menuju tempat parkir angkot yang menunggu penumpang aku iseng bertanya padanya mengenai namanya, sekolahnya, tempat tinggalnya, dan pekerjaan orangtuanya. Setiap jawaban yang ia sampaikan dengan suara gemetar menahan dingin, membuatku semakin iba. Kami pun sampai pada angkot yang akan kami tumpangi, kuberikan uang dua ribu rupiah sambil mengembalikan payungnya. Ia terlihat begitu senang.. Terima kasih kak... katanya dengan ramah sambil berlari ke arah pengunjung yang ia rasa membutuhkan jasa payung.
Diatas angkot dalam perjalanan pulang ke rumah, aku masih teringat wajah anak itu. Seorang anak bernama Warni, yang umurnya masih 6 tahun hidup dalam lingkungan keluarga yang tergolong sangat kurang mampu, ayahnya tidak lagi bisa bekerja karena sakit-sakitan sementara ibunya bekerja sebagai pengais sampah, dengan keadaannya yang seperti itu, Warni tidak pernah mengenyam pendidikan. Satu hal yang membuatku salut, walaupun Warni tidak sekolah tapi sepertinya ia sangat mengerti keadaan orang tuanya. Berbekal payung tua berukuran lumayan besar, dengan memanfaatkan musim hujan, ia menawarkan jasa ojek payung kepada setiap pengunjung yang sekiranya membutuhkan payung, dengan harapan penghasilan yang ia dapatkan cukup untuk membeli obat untuk ayahnya.
Ada yang bilang hidup adalah pilihan, tapi saya yakin Warni tidak pernah memilih hidup dalam lingkungan keluarga tidak mampu, namun bekerja menawarkan jasa payung kepada orang yang membutuhkan payung di musim penghujan adalah pilihan Warni demi mendapatkan sesuap nasi yang membuatnya mampu bertahan melawan pahitnya kehidupan. Jadi ketika langit menangis, tetaplah tersenyum karena di luar sana terdapat beberapa saudara kita yang menjadikan hujan sebagai sumber penghasilan.


****... SEKIAN... ****
           ks